1. BAGAIMANA JALANNYA MASALAH/LATAR BELAKANG
Dewasa
ini kita mengetahui, bahwa pasar
perdagangan di negara kita dibanjiri prroduk luar negeri terutama produk dari
Tiong kok setelah Asean-China
Trade Agreement (ACFTA). Seperti dalanm kehidupan sehari-hari, misalnya
sekarang. Handphone asal Tiong kok telah tersebar luas di masyarakat dengan
cepat karena harganya yang terjangkau oleh
rata-rata
masyarakat Indonesia. Belum lagi produk Tiong kok yang lain seperti alat-alat
tulis, alat kebersihan, alat-alat komunikasi lainnya bahkan sandal sekalipun.
TIONG
KOK dipastikan bergabung dengan negara-negara ASEAN dalam melakukan perdagangan
antar negara atau yang lebih dikenal dengan Asean Free Trade Area (AFTA). Bagi
Indonesia ini berarti memperbolehkan produk-produk Tiong kok masuk ke Indonesia
tanpa ada hambatan tarif untuk menguasai pasar domestik. Tiong kok terkenal dengan prestasinya dalam perekonomian yang
stabil, perdagangan internasional, produk yang mampu bersaing secara global
dengan perusahaan-perusahaan besar kelas dunia, dan kesuksesannya menahan laju
perusahaan asing di pasar lokal.
Setelah
mengalami defisit dalam neraca perdagangannya pada 1980-an Tiong kok berhasil
bangkit. Neraca perdagangannya surplus sejak 1990-an. Strategi yang diambil
Tiong kok adalah dengan kebijakan ekonomi yang tepat, membangun dasar-dasar
industri yang kokoh, mengandalkan faktor tenaga kerja yang lebih murah (bahkan
lebih murah dari negara-negara berkembang di ASEAN) dan membuka diri terhadap
persaingan global (penurunan tarif impor dari 50% pada 1980an menjadi 17% pada
1998).
Kebijakan
moneter dari Tiong kok yang mendevaluasi mata uangnya Renminbi, ditopang
cadangan devisa yang kuat sebesar 2,3 Triliun US dollar pada tahun 2010
menjadikan Tiong kok sebagai raksasa ekonomi baru di dunia. Selain itu Tiong
kok melakukan pembangunan infrastruktur sebagai pilar bagi pertumbuhan
ekonominya. Misalnya, pembangunan infrastruktur pelabuhan sebagai penunjang
aktivitas ekspor dan impor. Pelabuhan di Shanghai, Shenchen, Qingdao, Ningbo
dan Guangzhou merupakan pelabuhan-pelabuhan tersibuk bertaraf internasional.
Dalam
perdagangan internasional, khususnya dalam ekspor produk barang dagang, tahun
2008 Tiong kok menduduki peringkat teratas setelah Jerman, dengan pangsa pasar
ekspor sebesar 8,9% dari total barang-barang ekspor di seluruh dunia
(International Trade Statistic, 2009).
Pasar
domestik Tiong kok sebagai pasar terbesar di dunia dengan populasi kurang lebih
2 milyar, merupakan sasaran bagi perusahaan-perusahaan global. Namun perusahaan
lokal Tiong kok sudah teruji dalam menahan gempuran dari perusahaan
multinasional yang menggempur pasar lokal mereka. Sebalikannya bahkan kini
Tiong kok sudah menguasai pasar Internasional.
Sejak
tahun 1990-an produk Tiong kok telah bertransisi dari low-price dan low-quality
menjadi produk untuk semua segmen pasar sehingga tidak mengherankan jika
perusahaan asli Tiong kok Baidu mampu menahan laju pertumbuhan Google sebagai
mesin pencari kelas dunia di pasar internet Tiong kok. Keberhasilan perusahaan
Tiong kok menahan ekspansi dari perusahaan multinasional membawa semangat bagi
mereka untuk melakukan ekspor ke luar negeri. Hal ini didukung dengan sudah
tercapainya skala ekonomis pada produk mereka.
Perusahaan
Tiong kok tidak hanya menunjukkan prestasi di pasar domestik, namun juga
menunjukkan prestasi yang sama di pasar global. Sinopec, State Grid dan China
National Petroleum merupakan perusahaan-perusahaan lokal Tiong kok yang masuk
dalam 25 perusahaan terbesar di dunia versi Fortune.
Dengan
dimulainya AFTA pada 1 Januari 2010, otomatis perusahaan Tiong kok akan
mengekspor produknya ke pasar domestik Indonesia, mereka yang mengekspor
tersebut adalah perusahaan yang telah teruji dan terbukti mampu bersaing dengan
perusahaan multinasional di pasar lokal negaranya, dengan memanfaatkan
jaringan, faktor produksi dan infrastruktur lokal yang tersedia.
Bagi
perusahaan Tiong kok, pasar ASEAN memiliki banyak kesamaan dengan pasar Tiong
kok yang membawa mereka pada posisi kuat untuk masuk. Perusahaan Tiong kok
telah berpengalaman dalam melayani pasar dengan pendapatan rendah, sehingga
faktor penentu bagi kebanyakan konsumen adalah harga, dengan memberikan barang
yang memiliki kualitas sama namun memberikan harga lebih murah dibandingkan
pesaing-pesaing lokal.
Jika
melihat kondisi perusahaan Tiong kok yang telah mencapai skala ekonomis dalam
produksinya, mereka telah memiliki modal yang cukup kuat sehingga tidak akan
mendapatkan perlawanan berarti dari perusahaan lokal Indonesia. Kebesaran dan
kekuatan Tiong kok membuat produsen-produsen lokal ketakutan, dan lari lebih
dulu sebelum menghadapi persaingan. Banyak perusahaan lokal Indonesia mengambil
langkah mengurangi produksi mereka untuk mengurangi biaya produksi dan kerugian
yang akan diperoleh jika produk Tiong kok masuk ke pasar domestik Indonesia.
Namun,
jika perusahaan-perusahaan lokal Indonesia cukup jeli melihat kondisi bahwa
perusahaan-perusahaan Tiong kok yang masuk ke Indonesia tersebut adalah
perusahaan yang mendapatkan persaingan di pasar lokal mereka sendiri dan juga
pasar ekspor di Indonesia. Ini berarti perusahaan Tiong kok tersebut menjual
produknya dengan margin yang sangat kecil.
Melawan
Tiong kok dalam kondisi seperti ini adalah dengan mengadopsi strategi mereka
sendiri, perusahaan lokal Indonesia harus mampu memanfaatkan keunggulan
jaringan, faktor produksi dan infrastruktur lokal yang dimiliki. Memproduksi
produk pada skala ekonomis dimana biaya termurah dalam memproduksi produk harus
diterapkan untuk mampu bersaing dengan memberikan barang dengan kualitas yang
sama dengan produk Tiong kok, namun dengan harga lebih murah.
Langkah
ini akan meredam bahkan bisa jadi mengalahkan produk perusahaan Tiong kok di
pasar Indonesia dan membentuk dan menempa perusahaan domestik untuk mampu
bersaing secara global.
Selain itu, dengan melakukan strategi ini, yang paling diuntungkan adalah konsumen Indonesia yang mendapatkan barang dengan harga murah.
Selain itu, dengan melakukan strategi ini, yang paling diuntungkan adalah konsumen Indonesia yang mendapatkan barang dengan harga murah.
Barang
produksi home industri negeri China mampu menembus pasar Indonesia, ini adalah
peluang yang sangat empuk bagi ekonomi mereka, Devisa RRC meningkat tajam dan
berbanding terbalik dengan negara kita. Bagaimana tidak, kalau dulu di jaman
pak Harto kita kebanjiran produk Jepang, semua alat rumah tangga sampai bolpen
pun made in japan. Kini semua peralatan yang murah – murah made in China.
Handphone china, tv china komputer china dll.
Pemerintah
dianggap kebakaran jenggot akibat membanjirnya produk-produk China di pasar
dalam negeri. Langkah pengamanan pasar bagi industri lokal seperti Bea Masuk
Tindakan Pengamanan (BMTP) oleh Kementerian Perdagangan hanya sebatas mau
menunjukan kinerja saja. sudah sejak lama pelaku usaha di dalam negeri
menghendaki revisi perdagangan bebas ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA).
Namun sayangnya pemerintah tak menghiraukan suara pelaku industri lokal. “Kita
bukan menolak ACFTA tapi kita minta direvisi saja,” Langkah pemerintah mengajak
investor China untuk berinvestasi ke dalam negeri suatu hal yang sangat sulit.
Menurutnya, China sebagai negara industri tahu benar apa yang menjadi
kepentingannya.
Lalu
bagaimana kita bisa bersaing di pasar global, apakah kita bisa meniru apa yang
telah dilakukan oleh Negara China dalam meningkatkan pemberdayaan UKM usaha
home industri guna meningkatkan kemakmuran rakyatnya? Bayangkan saja semua
kebutuhan kita ada dibuat oleh mereka, padahal kita pun bisa melakukannya jika
ada yang menyuarakan untuk membuatnya, Ada yang memberikan pengaturan untuk
membuat semua jenis produk dengan home industri dan bisa dipakai sendiri maupun
di ekspor, Ya Seperti yang dilakukan bangsa China tersebut.
2. SEBERAPA BESAR MASALAH TERSEBAR PADA BANGSA DAN
NEGARA.
Sebulan
pasca kesepakatan pemberlakuan perdagangan bebas Asean China Free Trade
Agreement (ACFTA), bagaikan air bah yang menyerbu dan membanjiri secara bebas,
tanpa batas. Berbagai ragam produk Made in China, kini semakin menyerbu dan
membanjiri sejumlah pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional di Ibukota.
Memang
dampak ACFTA, kapal-kapal berbendera China semakin memadati Pelabuhan Tanjung
Priok. Selama Januari 2010, sudah ada sekitar 24 kapal Tiong kok yang sudah
masuk sebanyak 12.000 petikemas pada Januari 2010. Produk China yang masuk
kebanyakan tekstil, bahan-bahan tekstil, makanan dan minuman, buah-buahan,
mainan anak-anak, sepatu dan sandal. Untuk garmen biasanya satu konteiner
ukuran 20 feet berisi ratusan ribu potong pakaian atau setara dengan berat
sekitar 25 ton. Dan untuk konteiner berukuran 40 feet beratnya bisa mencapai 33
ton.
Ragam
produk itu, umumnya yang paling banyak dikonsumsi dan memenuhi kebutuhan rakyat
Indonesia. Ditambah harganya benar-benar murah, masyarakat berpenghasilan
rendah pun terjangkau membelinya. Tak mengherankan jika daya beli mengalami
grafik pergerakan naik. Sebut saja, tekstil, peralatan sekolah dan kantor,
sepatu, sparepart rumah tangga seperti obeng, gunting, tang, mainan anak-anak,
souvenir sampai tusuk gigi dan peniti kini banyak ditemui dengan mudah.
Apalagi,
menjelang Imlek (Hari Raya China) sebentar lagi menghadang. Produk kebutuhan
Imlek pun gampang ditemukan. Di pasar tradisional Pasar Pagi, Pasar Asemka,
Pasar Gembrong, Pasar Rawa Badak, Pasar Tanah Abang hingga pusat perbelajaan
seperti Mal Gajahmada, Mal Kepala Gading, WTC Mangga Dua , Mal Artha Gading
nampak banyak barang-barang impor dari negeri Tirai Bambu dipajang di toko,
gerai, kedai juga pedagang asongan menawarkan dengan harga yang miring.
Pantauan
Kabarbisnis.com, Ahad (7/2/10), di Pasar Asemka Jakarta Pusat misalnya, produk
China kini sudah menjadi bagian penjualan utama bagi pemilik toko hingga
pedagang emperan. Di kawasan perdagangan ini, yang paling banyak dijual adalah
peralatan sekolah, kantor, mainan anak juga souvenir dan pernik-pernik Implek.
Antok,
pedagang peralatan sekolah dan kantor dari China menjelaskan barang-barang asal
sebutan negara Panda itu sudah membanjiri pasar sebelum adanya ACFTA, namun
kini jumlah barang produk China yang dijual semakin meningkat dan beragam.
Selain murah, bahkan harganya cenderung menurun karena serbuan barang China
lebih banyak.
“Umumnya
pembeli lebih mementingkan harga murah dibandingkan kualitasnya. Jadi pembeli
tidak mementingkan produk China atau produk lokal. yang penting murah dan
terjangkau. Kalau kualitas, dianggap sama aja, pembeli masa bodoh,” tandasnya.
Para
pedagang mainan anak di Pasar Gembrong, Jakarta, produk Made in China kini
makin lebih marak, setelah pasar bebas dibuka. Barang mainan dari negeri Kung
Fu itu juga dijual lebih murah sehingga mempengaruhi harga pasaran mainan anak
dari produk lokal. Harga semakin bersaing, meski kualitas produk lokal tidak
kalah dengan produk China. Namun masyarakat tetap mencari harga yang miring.
“Harga
sejumlah mainan anak relatif menurun. seperti mainan mobil remote control
relatif menurun hingga 10-15%, dari Rp 95.000 menjadi Rp 80.000 atau Rp 75.000
per unitnya. Begitu juga mainan anak lainnya seperti boneka pakai bateri,
mobil-mobilan elektronik, pistol-pistolan, dan mainnan lainnya harganya memang
jatuhnya lebih murah, apalagi beli dalam partay atau jumlah yang banyak,” ucap Wirya,
pedagang mainan anak-anak di Pasar Gembrong.
Di
Pasar tradisional lainnya, seperti Pasar Tanah Abang dan Pasar Rawa Badak yang
menjual Batik dari China semakin membanjiri pusat perkulakan sehingga menyaingi
batik Indonesia. Di Pasar Rawa Badak, banyak ditemukan batik cetak asal China
yang dipajang di setiap sudut toko pedagang. Harganya juga sangat murah,
rata-rata hanya sekitar Rp35 ribu-Rp 50 ribu per lembar. Sementara batik lokal
paling banter harganya Rp75.000 perlembar.
Soal
kualitas, bahan baku, motif dan desian batik China ya sangat jauh lah
dibandingkan batik lokal yang kaya desain, kaya warna, namun sayangnya konsumen
kadang tak memikirkan masalah itu, yang penting harganya murah dan terjangkau,
ungkap Bu Satria, pedagang batik China di Pasar Rawa Badak.
Sementara
di Mal Artha Gading, WTC Mangga Dua, Mal Gajahmada, produk China sangat gampang
ditemukan. Seperti pakaian, blouse berbahan polyester saja bisa didapat dengan
harga tak lebih dari Rp50 ribu. Demikian juga celana pendek ukuran sedang harga
super murah seharga Rp35 ribu. Harga ini, jauh lebih murah ketimbang harga
tekstil buatan lokal yang bisa mencapai Rp150 ribu per helai.
Bahkan
di Mal elite Kelapa Gading juga ditemukan banyak jenis produk China. Mulai dari
makanan ringan, snack, semir, jam dinding, jam tangan, pasta gigi, karpet
lantai, sikat gigi bahkan tusuk gigi bermerk China banyak ditemukan. Produknya
beragam. Harganya juga murah meriah. Lihat saja tusuk gigi, hanya Rp 1000 per
paknya sementara buatan lokal mencapai Rp3.000 per pak.
Kekhawatiran,
kecemasan pelaku bisnis dengan maraknya produk China dengan harga yang lebih
murah dan tanpa memperlihatkan kualitas produknya, sudah tak bisa dielakkan
lagi. Kondisi ini jelas terus menghantui pelaku bisnis, dan bila dibiarkan
berlarut-larut banyak industri Indonesia terancam gulung tikar.
Karenanya
kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan, diantaranya mengalihkan kapal dari
China yang masuk tidak melalui pelabuhan utama namun dialihkan ke pelabuhan
kecil di wilayah Indonesia Bagian Timur, tujuannya pelabuhan itu semakin ramai,
tingkat pendapatan masyarakat sekitar meningkat dan harga barang semakin mahal
untuk dikirim lagi ke pusat perekonomian di Jakarta dan sekitarnya.
Juga
antisipasi lain yang perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Yang tak
hanya bergelut ngurusi di dunia politik saja, namun bagaimana memikirkan dampak
perdagangan bebas ACFTA yang sudah mengancam dunia industri, mengancam tenaga
kerja, mengancam perekonomian.
Dan
yang paling penting, bagaimana pelaku bisnis Indonesia bisa bermain lebih hebat
lagi di pasar internasional. Ini butuh uluran dan pemikiran pemerintah
3. MENGAPA MASALAH HARUS DITANGANI PEMERINTAH DAN
HARUSKAH SESEORANG BERTANGGGUNG JAWAB MEMECAHKANNYA?
Kedatangan
produk impor asal Negeri Tirai Bambu Tiong kok memang fantastis. Dengan cepat
setelah diberlakukannya ACFTA. Indonesia dan negara ASEAN lainnya dibanjiri
produk-produk impor asal Tiong kok tersebut. Namun, dibalik banyaknya produk
Tiong kok tersebut yang diimpor telah mengakibatkan dampak negatif yang sangatv
memprihatinkan dan harusb segera di atasi oleh pemerintah.
- Produk Tiong kok kalahkan Produk Lokal.
Serbuan
produk impor dari China telah terbukti menghantam industri dalam negeri. Hasil
survei Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyimpulkan, pemberlakuan
ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah menciutkan pasar produksi produk
dalam negeri.
Dirjen
Kerjasama Industri Internasional Agus Tjahyana mengatakan, hasil survei yang
dilakukan Kemenperin menunjukkan, industri dalam negeri mengalami penurunan
penjualan, merosotnya keuntungan hingga pengurangan tenaga kerja. “Ini survei
di 11 kota besar,” kata Agus dalam konferensi pers tentang perkembangan
pelaksanaan ACFTA, Rabu (23/3/2011).
Responden
survei tersebut meliputi 2.738 penjual, 3.521 pembeli dan 724 perusahaan.
Mereka tersebar di berbagai kota. Yaitu, Medan, Padang, Palembang, Jakarta,
Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Makassar dan Manado.
Agus
menuturkan, hasil survei tersebut juga memotret perilaku pedagang yang lebih
suka menjual produk buatan China daripada menjual karya anak negeri. “Ini
ditengarai sebagai penyebab penurunan produksi domestik,” ujar Agus.
Namun,
dari sisi kualitas, survei itu menunjukkan, kualitas produk dalam negeri lebih
unggul dibandingkan produk China. Menurut Agus, ini karena produk dalam negeri
menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara banyak produk China yang
tidak memiliki SNI walaupun kaya inovasi dan kreasi.
Berdasar
data Ditjen Bea Cukai, impor produk China meningkat 45,9 persen di 2010.
Sedangkan ekspor Indonesia ke China hanya naik 36,5 persen di tahun yang sama.
Impor terbanyak dari China adalah mainan yang menguasai 73 persen total impor
mainan. Setelah itu furnitur dengan pangsa 54 persen, elektronika 34 persen,
logam 18 persen, permesinan 22 persen, dan tekstil produk tekstil (TPT) 34
persen.
Menurut
Agus, Kemenperin sudah melakukan pemantauan untuk menghindari keterpurukan
industri dalam negeri akibat ACFTA. Jika perlu, tandasnya, Indonesia bisa
menggunakan Article 6 kesepakatan ACFTA berupa modifikasi hasil kesepakatan.
- Infrastruktur tertinggal
Sofjan
Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengatakan,
kekalahan produk dalam negeri karena infrastruktur yang minim. Seperti, pasokan
gas dan listrik yang seret membuat produksi jadi kerdil. Sementara konsumsi
dalam negeri meningkat. “Pasar yang meningkat itulah yang diisi produk China,”
ujar Sofjan kepada KONTAN.
Ia
menuding pemerintah memperlonggar aturan impor barang jadi dan mempersulit
impor barang modal. Alhasil, pengusaha banyak memilih menjadi pedagang
ketimbang memproduksi sendiri.
- Banyak Industri bakal gulung tikar
Jelang
tutup tahun 2009, Apindo melontarkan pernyataan mengejutkan. Asosiasi Pengusaha
Indonesia itu menyatakan, pada 2010, banyak industri manufaktur tutup dan
jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan bakal mencapai 7,5 juta. Itu berarti,
angka penganggur terbuka yang saat ini sekitar 8,9 juta akan membengkak menjadi
17,8 juta orang. Perdagangan bebas ASEAN- Tiong kok bakal timbulkan banyak
masalah sosial
Lonjakan
angka pengangguran itu disebabkan oleh serbuan produk RRT. Mulai 1 Januari
2010, era perdagangan bebas Asean-China atau yang lazim disebut Asean-China
Free Trade Area (AC-FTA) diberlakukan.
Tak
satu pun industriawan Indonesia yang senang dengan AC-FTA. Mereka tahu persis,
Indonesia, sebagaimana kebanyakan negara Asean, tidak akan mampu mengungguli
produk RRT. Sebelum memasuki AC-FTA pun, negara-negara Asean sudah kebanjiran
produk RRT. Kini, dengan bea masuk nol persen, produk RRT akan semakin
mencengkeram pasar domestik. Industriawan nasional pun menangis karena PHK tak
terelakkan.
Para
pedagang dan konsumen mungkin tidak mempermasalahkan perkembangan ini. Bagi
pedagang, yang penting adalah margin laba yang besar. Sebagian dari mereka
sebelumnya adalah pemilik pabrik tekstil dan garmen. Para pedagang itu akhirnya
banting setir karena produk mereka tidak bisa bersaing dengan produk RRT. Harga
produk RRT jauh lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah, bahkan lebih
bagus.
Untuk
produk tertentu, harga barang jadi produk RRT lebih murah dibanding bahan baku
produk Indonesia. Jika sudah demikian, untuk apalagi mempertahankan pabrik
manufaktur di Indonesia? RRT setidaknya, unggul dalam sepuluh produk, yaitu
tekstil dan garmen, serta alas kaki, elektronik dan listrik, produk dari besi
dan baja, peralatan medis dan optik, mebel, produk kimia, alat transportasi,
produk perlengkapan generator, bahan bakar mineral, dan mainan anak-anak.
Produk-produk ini justru menjadi andalan industri manufaktur Indonesia.
Konsumen
Indonesia mungkin tidak perduli asal-usul produk, termasuk membanjirnya produk
RRT. Mereka bahkan diuntungkan oleh produk dari negeri Tirai Bambu itu. Saat
berbelanja, konsumen umumnya hanya melihat mutu dan harga. Sebagian besar
konsumen Indonesia, yang memang berpenghasilan rendah, malah hanya
mempertimbangkan harga. Mereka tidak terlalu sensitif terhadap kualitas,
apalagi mempertanyakan produk lokal atau asing. Produk RRT yang murah justru
menolong masyarakat berdaya beli rendah.
Tapi,
untuk kepentingan jangka panjang, kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Indonesia,
negeri dengan penduduk 230 juta ini, tidak boleh hanya menjadi pasar bagi
produk asing. Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia menempati peringkat keempat
setelah RRT (1,3 miliar), India (1,1 miliar), dan AS (340 juta). Sebagaimana
RRT, Indonesia juga harus bisa memanfaatkan jumlah penduduk yang besar untuk
menggapai kemajuan.
Yang
mengherankan, pemerintah justru tidak sedikit pun menunjukkan kekhawatiran
terhadap membanjirnya produk RRT. Seakan dengan mengikuti AC-FTA, tidak akan
ada masalah dengan Indonesia. Para menteri dan pejabat pemerintah lebih banyak
bicara teori bahwa Indonesia harus bisa bersaing di pasar global. Indonesia
tidak boleh takut menghadapi produk negara lain, termasuk produk RRT.
Pemerintah
lupa bahwa persaingan itu ada syaratnya. RRT tidak membuka pasarnya ketika
industri manufakturnya belum kuat. RRT memproteksi produk dalam negerinya
selama beberapa dekade. Setelah industri manufakturnya kokoh dalam dekade
terakhir, RRT berani membuka pasar. Saat ini, negeri manakah yang mampu menahan
produk RRT? AS pun tidak mampu. Begitu pula negara-negara Eropa. Produk RRT
sangat unggul dalam harga. Meski mutunya tidak hebat, konsumen tetap tergiur
karena kualitas produk RRT tidak jelek dan mutunya terus mengalami perbaikan.
Ekspor
RRT tahun 2008 mencapai US$ 1,4 triliun, sedang impornya hanya 1,1 miliar atau
meraih surplus perdagangan US$ 295 miliar. Tidak heran jika cadangan devisa RRT
terus meningkat dan kini mencapai US$ 2,3 triliun. Untuk lingkup Asean, RRT
surplus. Pada tahuhn 2008, Asean mengekspor US$ 85,6 miliar dan mengimpor US$
107 miliar. Indonesia pun sudah keok. Pada 2008, ekspor Indonesia ke RRT
sebesar US$ 11,6 miliar, sedang impor dari RRT sebesar US$ 15,2 miliar. Mulai
tahun ini, defisit perdagangan RI-RRT bakal meningkat tajam.
Pemerintah
terkesan menerapkan liberalisasi ekonomi ugal-ugalan. Liberalisasi diterapkan
tanpa penelitian, evaluasi, dan persiapan. Pemerintah tak pelak hanya ikut arus
agar kelihatan gagah di forum internasional meski industri manufaktur dalam
negeri babak belur dan pengangguran terbuka bakal meledak. Hingga memasuki
tahun keenam pemerintahan SBY, kita belum melihat upaya serius untuk
memantapkan struktur industri dan memperkuat fondasi ekonomi.
- Batik murah Tiong kok vs Nasionalisme Batik
Baru
saja pengrajin batik tanah air menikmati ‘bulan madu’ pasca pengakuan UNESCO
atas batik sebagai warisan budaya dunia. Kini, batik lokal justru terancam.
Pemberlakukan
perjanjian perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China sejak Januari 2010 lalu, kini
sudah mulai berdampak.
Membanjirnya
produk tekstil batik China membuat produk batik printing atau batik cetak di
Solo terjepit. Bukan tak mungkin ke depan, produk tekstil China juga mengancam
produk batik cap hingga ‘masterpiece’ batik tulis.
“Saat
ini yang terkena memang bukan perajin batik cap atau tulis tetapi industri
batik printing. Biasanya yang menggarap batik seperti itu perusahaan tekstil
bukan perajin kecil,” kata Ketua paguyuban perajin batik di Kampung Wisata
Batik Kauman Solo, Gunawan Setiawan kepada VIVAnews, Minggu 18 Januari 2010.
Produk
batik China, disebutkan Gunawan memiliki keunggulan dibanding produk lokal,
yakni harganya yang murah.
“Para
pembeli itu sudah tidak memandang rasa nasionalisme. Yang terpenting bagi
mereka harganya lebih murah,” tegasnya.
Sementara
itu, ketua paguyuban perajin batik di Kampoeng Batik Laweyan Solo, Alpha Febela
mengamini apabila produk batik printing yang paling terkena dampak dibukanya
keran perdagangan bebas dengan China.
“Dalam
jangka pendek ini produk batik China berupa batik printing. Jadi, bisa
dikatakan batik China saat ini mengambil segmentasi pasar batik printing buatan
lokal,” ujar dia.
Membanjirnya
produk China, kata Alpha, hanya bisa dibendung dengan semangat nasionalisme
pembeli. Kecintaan terhadap batik lokal bisa jadi penyelamat.
Selain
itu, tambah dia, para pengrajin harus memiliki kreatifitas dan desain yang
lebih kreatif. Dengan begitu, batik printing lokal tetap mampu bersaing ditengah
gempuran batik impor China.
“Yah,
kelemahan kita sebagai perajin batik sejak awal tidak dididik berjiwa
wirausaha. Padahal, seharusnya memang harus seperti itu supaya bertahan.
Sedangkan untuk nasionalisme, supaya masyarakat tetap mencintai batik Solo juga
butuh proses,” kata dia.
Mengenai
potensi batik cap dan tulis, yang hingga saat ini masih aman, juga bakal
menemui nasib sama.
Sebab,
bisa jadi tekstil China akan masuk ke Solo dalam bentuk kerjasama UKM dan mau
menerima order kelas menengah ke bawah.
“Nah,
itulah yang paling merepotkan. Hancurnya ukurian Jepara juga seperti itu,
karena banyak asing yang masuk,” papar Alpha
Bahkan,
Alpha sedikit membocorkan sejak awal Januari hingga hari ini omzet penjualan
toko batik yang ada di Kampoeng Batik Laweya susut sekitar 20-30 persen.
“Antara sebelum ada perdagangan bebas dan setelahnya ada sedikit dampak
penurunan,” keluh Alpha.
- Indonesia Punya Pasar, China Punya Produk
China sebagai raksasa ekonomi dunia sudah tak terbantahkan lagi geliatnya di bidang perdagangan
mampu menusuk sampai ke Amerika Serikat membuat negeri paman sam ini kewalahan.
Sementara kiprahnya di Asean semakin kuat terutama setelah adanya Perjanjian
Perdagangan Bebas Asean – China yang disebut ACFTA.
Dampak
negative atas perdagangan bebas ACFTA sudah dirasakan oleh Indonesia yang punya
penduduk 235 juta menjadi sasaran empuk peluang pasar China. Perhatikan dipasar
tanah abang pasar tekstil sudah dibanjiri tekstil asal China termasuk batik
yang nota bene kepunyaan Indonesi di produksi di China di pasarkan di tanah
abang dengan harga yang lebih murah. Kemudian masuklah ke super atau hyper
market periksa konter mainan anak anak mayoritas juga adalah produk dengan
tulisan made in china. Teruslah pergi ke toko furniture kita akan temukan bergagai
macam furniture buatan China, demikian juga konter produk electronik dan
permesinan, dari semua itu peningkatan yang paling menyolok produk china ke
Indonesia adalah produk makanan dan minuman serta alas kaki.
Fenomina
masuknya produk China secara besar besar besaran ke Indonesia dibuktikan dengan
data neraca perdagangan Indonesia – China akhir 2010 dimana defisit di pihak
Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke China 49,2 miliar dollar AS, sementara
nilai impor dari China sebesar 52 miliar dollar AS (Koran Jakarta, tulisan
Achmad Maulani 8 Juni 2011).
Dampak
buruk atas membanjirnya produk China terhadap usaha kecil dan menengah (UKM)
sudah dirasakan. Inilah sebenarnya pokok masalah yang banyak diserukan dan
dikhawatirkan berbagai kalangan, terutama kalangan yang sangat merasakan dampak
langsung dari perjanjian ACFTA. Bayangkan saja
bila tahun 2004 tarif bea masuk ke Indonesia dalam skema ACFTA masih 9,9 persen, maka semenjak 2010 turun drastis menjadi 2,9 persen. Tak pelak, produk-produk China kini semakin merajalela dipasar Indonesia dan merambah seluruh lini.
bila tahun 2004 tarif bea masuk ke Indonesia dalam skema ACFTA masih 9,9 persen, maka semenjak 2010 turun drastis menjadi 2,9 persen. Tak pelak, produk-produk China kini semakin merajalela dipasar Indonesia dan merambah seluruh lini.
Dalam
situasi persaingan yang begitu ketat celakanya pemerintah belum mempunyai data
yang akurat tentang pemetaan kebutuhan pasar China. Data yang dimiliki
Indonesai selama ini dari pihak China tidak akurat sehingga pemetaan kebutuhan
pasar China-Indonesia sangat minim. Akibatnya, pelaku usaha nasional masih
harus meraba-raba karakteristik dan kebutuhan pasar China. Hal ini jelas
mempersulit Indonesia untuk membuat kebijakan yang tepat.
Sekarang
apa mau dikata yang terjadi terjadilah sudah China yang punya produk dan
Indonesia yang punya pasar kenyataannya China meraup pangsa pasar kita karena
produk kita tidak mampu bersaing dengan China akibat kebijakan pemerintah tidak
berpihak kepada pelaku bisnis khususnya usaha menengah dan kecil (UKM)..
4. ADAKAH KEBIJAKAN TENTANG MASALAH TERSEBUT?
Kementerian
BUMN mendorong pemerintah menerapkan penggunaan label Standar Nasional Industri
(SNI) terhadap produk China guna melindungi perusahaan lokal sekaligus memproteksi
konsumen, terkait pelaksanaan ASEAN -China Free Trade Agreement CFTA).
“SNI
penting diterapkan untuk mengetahui apakah barang yang masuk ke Indonesia
kualitasnya sama dengan produksi sejenis dalam negeri,” kata Sekretaris
Kementerian BUMN Said Didu, tadi sore.
Menurut
Said, sejauh ini dampak pelaksanaan ACFTA dalam jangka pendek terhadap kinerja
perusahaan perusahaan milik negara belum terasa.
“Akan
tetapi, kami terus mempelajarinya dan segera memberi masukan kepada Kementerian
Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mengambil langkah konkret
menghadapi persoalan ,” katanya.
Ia
menjelaskan, secara industri pelaksanaan ACFTA memberikan dampak besar terhadap
pasar di dalam negeri karena akan dibanjiri produk-produk yang beragam kualitas
dan harganya.
Satu
jenis produk bisa memiliki hingga lima kualitas, dengan harga bervariasi yang
bersaing dengan produk sejenis dalam negeri.
“Dari
tampang sama (produk), tapi kualitasnya rendah. Dengan harga yang ditawarkan
yang lebih murah bisa saja produk asal China tersebut lebih laku,” tegasnya.
Untuk
itu diutarakan Said, agar lebih adil maka penerapan SNI diterapkan tidak saja
untuk produk dari luar negeri tetapi juga produk lokal agar telihat jelas bahwa
yang dibeli para konsumen bukan merupakan “sampah”.
Sesungguhnya,
lanjutnya, masalah yang dihadapi adalah bahwa produk asal China yang masuk ke
dalam negeri tidak punya standar.
“Kalau
standarnya sama , maka kita yakin mampu bersaing. Yang manufaktur agak berat,
tapi kalau produk rumahan masih beranilah,” tegas Said.
Menurutnya,
secara keseluruhan penerapan ACFTA bisa memberi dampak negatif karena mengancam
sektor tertentu, namun juga berdampak positif terhadap BUMN karena bisa
disiasati dengan efisiensi terhadap biaya-biaya produksi, sehingga menciptakan
peluang.
Said
mencontohkan, motor China yang sempat menjadi fenomenal masuk ke Indonesia
karena dijual dengan harga murah, belakangan tidak lagi laku atau bahkan hilang
dari pasar karena konsumen otomotif sudah lebih jeli terhadap kualitas produk.
Untuk
itulah diutarakan Said, penting bagi pemerintah untuk mengedepankan kampanye
produk dalam negeri, dengan catatan bahwa yang diproduksi adalah barang
berkualitas.
Ia
mengakui, produk baja impor asal China banyak beredar di pasar, namun dengan
kualitas produk PT Krakatau Steel (Persero) yang lebih terjamin, membuat secara
perlahan baja impor tersebut akan ditinggalkan.
Untuk
itu katanya, sebagai antisipasi pemberlakuan ACFTA, Kementerian BUMN mendorong
perusahaan” pelat merah “menghasilkan barang/jasa berkualitas sehingga menjadi
pionir di setiap industri.
“Pemerintah
juga memastikan ketersediaan BBM, gas, dan energi listrik secara
berkesinambungan untuk mendukung daya saing industri di dalam negeri,”
pungkasnya.
a. ADAKAH PERBEDAAN PENDAPAT SIAPA ORGANISASI YANG BERPIHAK
PADA MASALAH INI.
Tidak
ada perbedaan pendapat. Semua sepakat bahwa impor Produk Tiong kok hanya akan
memperburuk ekonomi Indonesia. Kenapa? Produk-produk lokal yang kalah bersaing
dan tak mampu melanjutkan usahanya akan gulung tikar. Sekarang, banyak
masyarakat yang lebih memilih menjadi pedagang ketimbang memproduksi barang
sendiri. Ironis bukan?
Produk-produk
Tiong kok yang murah menjadi faktor utama yang harus segera diselesaikan.
Pemerintah diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang memihak para
pengusaha produk lokal agar mereka dapat bersaing secara ketat dan
mengunggulkan kualitas.
b. PADA TINGKAT LEMBAGA PEMERINTAH APA YANG
BERTANGGUNG JAWAB TENTANG MASALAH INI?
Mungkin
BUMN. Sebagai perusahaan yang disokong pemerintah. Harusnya bisa mengatasi
permasalahan ini. Namun, dari semua itu. Yang paling penting adalah bagaimana
mengembangkan UKM(Usaha Kecil menengah) agar tak tenggelam dari persaingan yang
makin lama makin ketat.
Kini
sudah banyak didirikan Bank Perkreditan Rakyat dan PNPM mandiri yang disokong
pemerintah untuk membantu para pengusaha UKM agar mampu bersaing dan
menciptakan produk-produk yang berkualitas dan bermutu tinggi.
DAFTAR HARGA LES
PRIVAT BAHASA MANDARIN SURABAYA
DAFTAR HARGA
MURID DATANG KERUMAH GURU
1 orang 520.000/bulan
2 orang 640.000/bulan
3 orang 840.000/bulan
4 orang 960.000/bulan
Sidotopo,
ploso, mulyosari, pakuwon, lebak,
1 orang 600.000/bulan
2-3 orang
800.000/bulan
4-5 orang
1.120.000/bulan
6-7 orang
1.440.000/bulan
8-9 orang 1.600.000/bulan
Surabaya timur
1-2 orang
880.000/bulan
3-4 orang
1.080.000/bulan
5-6 orang
1.600.000/bulan
7-9 orang 1.960.000/bulan
Surabaya Barat
1-3 orang
1.200.000/bulan
4-6 orang
1.600.000/bulan
7-9 orang 2.240.000/bulan
Sekali pertemuan 65
menit sampai 85 menit
Seminggu 2 kali
sebulan 8 kali
ANDA
BERMINAT LES PRIVAT BAHASA MANDARIN
XL :
087853300091
PIN
BB
: 542D2541
LINE : young_bastian
INSTAGRAM
: HUANGKUNYANG
LES PRIVAT BAHASA
MANDARIN GRATIS
DI KURSUS LESPRIVAT
BAHASA MANDARIN HUANG SURABAYA INI SAYA MENAWARKAN COBA LES PRIVAT BAHASA
MANDARIN GRATIS. ALASAN SAYA COBA LES
PRIVAT BAHASA MANDARIN GRATIS ADALAH UNTUK MEMBUKTIKAN KUALITAS SEMUA TENAGA
PENGAJAR SAYA. BANYAK KURSUS PRIVAT BAHASA MANDARIN YANG MENAWARKAN JASANYA
TETAPI KUALITAS TENAGA PENGAJARNYA YANG TIDAK JELAS. DENGAN ANDA MEMILIH LES
PRIVAT BAHASA MANDARIN TANPA COBA LES PRIVAT BAHASA MANDARIN GRATIS ANDA SUDAH
PASTI RUGI WAKTU, UANG DAN TENAGA . DENGAN ADANYA COBA LES PRIVAT BAHASA
MANDARIN GRATIS ANDA DAPAT MEMBUKTIKAN KUALITAS TENAGA PENGAJAR SAYA.
LES GRATIS INI HANYA
DUA KALI SAJA, DURASI LES GRATIS INI ADALAH 55 MENIT SAMPAI 125 MENIT. COBA LES
PRIVAT BAHASA MANDARIN GRATIS INI SUDAH SANGAT MEMBANTU ANDA DALAM MEMILIH LES
PRIVAT BAHASA MANDARIN, MENGEMBANGKAN
WAWASAN ANDA DALAM HAL BELAJAR BAHASA MANDARIN.
INGAT DALAM MEMILIH
GURU LES PRIVAT BAHASA MANDARIN BUKAN HANYA GELAR (PENDIDIKAN) DAN PENGALAMAN SAJA YANG HARUS ANDA LIHAT TETAPI
YANG PALING PENTING ADALAH KEMAMPUANYA MENGAJAR YANG ASLI DALAM MENGAJAR,
DIMANA KEMAPUANNYA DALAM MENGAJAR BISA ANDA BUKTIKAN DAN ANDA RASAKAN SECARA
LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG. GELAR (PENDIDIKAN) DAN PENGALAMAN BISA PALSU DAN TIPUAN SAJA, TETAPI
KEMAMPUANYA MENGAJAR YANG ASLI DALAM MENGAJAR, DIMANA KEMAPUANNYA DALAM
MENGAJAR BISA ANDA BUKTIKAN DAN ANDA RASAKAN SECARA LANGSUNG ATAU TIDAK
LANGSUNG TIDAK DAPAT MENIPU KARENA ANDA SENDIRI YANG MERASAKANNYA SENDIRI.
JANGAN PERCAYA DENGAN
IKLAN YANG TIDAK ANDA BUKTIKAN SENDIRI
KEBENARANYA , JANGAN PERCAYA DENGAN KATA ORANG LAIN YANG TIDAK ANDA
BUKTIKAN SENDIRI KEBENARANYADAN KARENA
HANYA AKAN MENIPI ANDA DAN MERUGIKAN ANDA.
GURU YANG BAIK BUKAN
HANYA MEMILIKI SANGAT BANYAK PENGTAHUAN, MEMILIKI SANGAT BANYAK PENGALAMAN DAN
PENDIDIKAN YANG SANGAT TINGGI, TETAPI
GURU YANG BAIK WAJIB SANGAT MEMAHAMI DAN MENGUASAI MATERI YANG DIJARKAN,
SANGAT MAMPU MENYUSUN BAHAN AJARAN ATAU KURIKULUM YANG TERBAIK BAIK UNTUK MURID
YANG AKAN DI AJARNYA, SANGAT MAMPU UNTUK MENGAJAR MURID YANG DI AJARKA DENGAN
SANGAT BAIK SEHINGGA MURID YANG DI AJAR SANGAT MAMPU MENGUASAI SEMUA MATERI
YANG DI AJARKAN.
YANG AKAN SAYA BERIKAN
SAAT LES GRATIS ADALAH:
UNTUK PEMULA ATAU
PELAJARAN DILUAR SEKOLAH (MAHASISWA, DOSEN, KARYAWAN, GENERAL MANAGER, OWNER
PERUSAHAAN DAN LAIN SEBAGAINYA)
UNTUK PERCAKAPAN :
1) PELATIHAN
LAFAL BAHASA MANDARIN.
2) PELATIHAN
NADA DALAM BAHASA MANDARIN
3) PERCAKAPAN
SEDERHANA
4) TEKNIK
BELAJAR PERCAKAPAN
5) TEKNIK
MENGHAFAL KALIMAT
6) TEKNIK
MENGHAFAL KOSA KATA
7) TEKNIK
MENDENGAR
8) KEBUDAYAAN
TIONG KOK
9) FILSAFAT
TIONGKOK
10)
TEKNIK BELAJAR BAHASA MANDARIN
UNTUK YANG LENGKAP
(PERCAKAPAN, MENULIS, MENDENGAR, MEMBACA, GRAMAR DAN KEBUDAYAAN)
1) PELATIHAN
LAFAL BAHASA MANDARIN.
2) PELATIHAN
NADA DALAM BAHASA MANDARIN
3) GORESAN
DALAM BAHASA MANDARIN
4) TEKNIK
MENULIS AKSARA MANDARIN (HAN ZI) SECARA UMUM
5) TULISAN
DASAR
6) TEKNIK
BELAJAR BAHASA MANDARIN
7) TEKNIK
MENGHAFALKAN AKSARA MANDARIN (HAN ZI)
SEDERHANA
8) TEKNIK
MENGHAFALKAN AKSARA MANDARIN (HAN ZI)
RUMIT
9) TEKNIK
MENGHAFAL KALIMAT
10)
TEKNIK MENGHAFAL KOSA KATA
11)
TEKNIK BELAJAR MENDENGAR
12)
KEBUDAYAAN TIONG KOK
13)
FILSAFAT TIONGKOK
UNTUK ANAK SEKOLAH
ATAU MATERI SEKOLAH (MAHASISWA, MURID SD, MURID SMP, MURID SMA ATAU SMK)
1) PELAJARAN
SEKOLAH ATAU UNIVERSITAS
2) TEKNIK
BELAJAR BAHASA MANDARIN
3) TEKNIK
MENGHAFALKAN AKSARA MANDARIN (HAN ZI)
SEDERHANA
4) TEKNIK
MENGHAFALKAN AKSARA MANDARIN (HAN ZI)
RUMIT
5) TEKNIK
MENGHAFAL KALIMAT
6) TEKNIK
MENGHAFAL KOSA KATA
7) TEKNIK
BELAJAR MENDENGAR
8) KEBUDAYAAN
TIONG KOK
9) FILSAFAT
TIONGKOK
JIKA ANDA BEMINAT UNTUK COBA LES PRIVAT BAHASA MANDARIN GRATIS
ADA SYARAT 3 YANG HARUS ANDA PENUHI YAITU
1) UNTUK
JADWAL COBA LES PRIVAT BAHASA MANDARIN GRATIS WAJIB MEMBUAT JANJI DENGAN SAYA
PALING LAMBAT 3 HARI SEBELUMNYA
2) SISWA
HARUS MEMENUHI JANJINYA (DATANG ATAU SIAP LES TEPAT WAKTU) JIKA TIDAK
KESEMPATAN COBA LES PRIVAT BAHASA MANDARIN GRATIS ANDA AKAN GUGUR .
3) MEMBERIKAN
ALAMAT LENGAP ANDA DAN CONTAC ANDA
ANDA
BERMINAT LES PRIVAT BAHASA MANDARIN
XL :
087853300091
PIN BB
: 542D2541
LINE :
young_bastian
INSTAGRAM :
HUANGKUNYANG
Di
bawa ini adalah harga rinci untuk les privat bahasa mandarin surabaya akan di
beri perician pehitungan biaya kursus perorang dan kursus perkali datang
DAFTAR HARGA
RINCI LES PRIVAT BAHASA MANDARIN SURABAYA
DAFTAR HARGA
MURID DATANG KERUMAH GURU
1 Orang
Hitungan
perkali datang 90.000.
300.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, , jika di hitung perkali datang 75.000
perdatang.
520.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di
hitung, jika di hitung perkali datang
65.000 perdatang.
720.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, , jika di hitung perkali datang 60.000
perdatang.
880.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 1.440.000 - 720.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 65.000 perdatang.
2 Orang
Hitungan
perkali datang 120.000.
360.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 180.000 /orang/bulan ,
jika di hitung perkali datang 90.000 perdatang.
640.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 320.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 80.000 perdatang.
840.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 420.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 70.000 perdatang.
960.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 480.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 60.000 perdatang.
3 Orang
Hitungan
perkali datang 150.000.
480.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 160.000 /orang/bulan ,
jika di hitung perkali datang 120.000 perdatang.
840.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 280.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 105.000 perdatang.
1.080.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 360.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 90.000 perdatang.
1.200.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 400.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 75.000 perdatang.
4 Orang
Hitungan
perkali datang 160.000.
560.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 140.000 /orang/bulan ,
jika di hitung perkali datang 140.000 perdatang.
960.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 240.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 120.000 perdatang.
1.200.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 300.000 /orang/bulan
, jika di hitung perkali datang 100.000 perdatang.
1.280.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 320.000 /orang/bulan
,jika di hitung perkali datang 80.000 perdatang.
Sidotopo,
ploso, mulyosari, pakuwon, lebak, kenjeran, kusuma bangsa, karang asem
1 Orang
Hitungan
perkali datang 100.000.
320.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, , jika di hitung perkali datang 80.000
perdatang.
600.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di
hitung, jika di hitung perkali datang 75.000 perdatang.
840.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, , jika di hitung perkali datang 70.000
perdatang.
1.040.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang ,jika di hitung
perkali datang 65.000 perdatang.
2 - 3 Orang
Hitungan
perkali datang 120.000.
440.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 220.000 - 150.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 110.000 perdatang.
800.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 400.000 - 270.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali
datang 100.000 perdatang.
1.080.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 540.000 - 360.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 90.000 perdatang.
1.280.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 640.000 - 430.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 80.000 perdatang.
4 - 5 Orang
Hitungan
perkali datang 150.000.
640.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 160.000 - 130.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 160.000 perdatang.
1.120.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 280.000 - 230.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali
datang 140.000 perdatang.
1.440.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 360.000 - 290.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 120.000 perdatang.
1.600.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 400.000 - 320.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 100.000 perdatang.
6 - 7 Orang
Hitungan
perkali datang 280.000.
840.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 140.000 - 120.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 210.000 perdatang.
1.440.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 240.000 - 210.000 orang/bulan ,jika di hitung perkali
datang 180.000 perdatang.
1.800.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 300.000 - 260.000 -
280.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 150.000 perdatang.
1.920.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 320.000 -
280.000 320.000 /orang/bulan ,jika di
hitung perkali datang 120.000 perdatang.
8 – 9 Orang
Hitungan
perkali datang 280.000.
960.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 120.000 - 110.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 240.000 perdatang.
1.600.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 200.000 - 180.000 orang/bulan ,jika di hitung perkali
datang 200.000 perdatang.
1.920.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 240.000 - 220.000 -
280.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 160.000 perdatang.
2.240.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 280.000 -
250.000 /orang/bulan ,jika di hitung
perkali datang 140.000 perdatang.
SURABAYA TIMUR
1 - 2 Orang
Hitungan
perkali datang 150.000.
520.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 520.000 - 260.000,
jika di hitung perkali datang 130.000 perdatang.
880.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di
hitung perorang 880.000 - 440.000 /orang/bulan , jika di hitung perkali datang
110.000 perdatang.
1.200.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 1.200.000 - 600.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 100.000 perdatang.
1.440.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 1.440.000 - 720.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 90.000 perdatang.
3 - 4 Orang
Hitungan
perkali datang 210.000.
660.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 220.000 - 165.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 165.000 perdatang.
1.080.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 360.000 - 270.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali
datang 135.000 perdatang.
1.440.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 480.000 - 360.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 120.000 perdatang.
1.680.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 560.000 - 420.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 105.000 perdatang.
5 - 6 Orang
Hitungan
perkali datang 300.000.
1.000.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 200.000 - 170.000
/orang/bulan , jika di hitung perkali datang 250.000 perdatang.
1.600.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 320.000 - 270.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali
datang 200.000 perdatang.
2.100.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 420.000 - 350.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 175.000 perdatang.
2.400.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 480.000 - 400.000
/orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 150.000 perdatang.
7 - 9 Orang
Hitungan
perkali datang 350.000.
1.120.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 160.000 - 140.000 -
130.000 /orang/bulan , jika di hitung perkali datang 280.000 perdatang.
1.960.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 280.000 - 245.000 -
220.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 245.000 perdatang.
2.520.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 360.000 - 315.000 -
280.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 210.000 perdatang.
2.800.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 400.000 - 350.000 -
320.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 175.000 perdatang.
Surabaya barat
1 - 3 Orang
Hitungan
perkali datang 200.000.
720.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 720.000 - 360.000 -
240.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 180.000 perdatang.
1.200.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di
hitung perorang 1.2000.000 - 600.000 - 400.000 /orang/bulan ,jika di hitung
perkali datang 150.000 perdatang.
1.440.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 1.440.000 - 720.000 –
480.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 120.000 perdatang.
1.600.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 1.600.000 - 800.000 –
540.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 100.000 perdatang.
4 - 6 Orang
Hitungan
perkali datang 280.000.
1.000.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 250.000 - 200.000 –
170.000 /orang/bulan , jika di hitung perkali datang 250.000 perdatang.
1.600.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 400.000 - 320.000 –
270.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 200.000 perdatang.
2.100.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 530.000 - 420.000 –
350.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 175.000 perdatang.
2.400.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 600.000 - 480.000 –
400.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 150.000 perdatang.
7 - 9 Orang
Hitungan
perkali datang 280.000.
1.280.000/bulan,
seminggu 1 kali, sebulan 4 kali, jika di hitung perorang 190.000 - 160.000 -
150.000 /orang/bulan , jika di hitung perkali datang 320.000 perdatang.
2.240.000/bulan,
seminggu 2 kali, sebulan 8 kali, jika di hitung perorang 320.000 - 350.000
-250.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 280.000 perdatang.
2.880.000/bulan,
seminggu 3 kali, sebulan 12 kali, jika di hitung perorang 420.000 - 360.000 –
320.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 240.000 perdatang.
3.200.000/bulan,
seminggu 4 kali, sebulan 16 kali, jika di hitung perorang 600.000 - 480.000 –
400.000 /orang/bulan ,jika di hitung perkali datang 200.000 perdatang.
ANDA
BERMINAT LES PRIVAT BAHASA MANDARIN
XL :
087853300091
PIN
BB
: 542D2541
LINE : young_bastian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar